2 Bidadari...


Dulu aku berpacaran dengan seorang gadis, dia sanagt manis dan baik.
Suatu hari dia berkata padaku "Aku tak sepadan denganmu, aku terlalu miskin dan bodoh tak seperti dirimu". Aku tak peduli, aku memeluknya erat dan berkata padanya "Tapi hatimu berkilau gemerlap, dan itu lebih dari cukup untukku". Aku selalu mengunjunginya tiap hari sabtu dan minggu dengan setangkai mawar merah.

Aku tak pernah menyangka, suatu hari dia pergi begitu saja. Suatu hari yg penuh hujan dan angin, aku mendatangi rumahnya, dan tak kutemukan seorangpun disana. Tetangganya berkata kalau mereka telah pindah, kedua orang tuanya harus pergi untuk menghindari hutang.

Tahun demi tahun berlalu, aku tumbuh tanpa semangat. Aku kehilangan jat diri dan dirinya. Kini aku hanya mahasiswa dengan nilai yg jelek dan masa depan suram. Aku tak pernah melupakannya dan selalu merindukannya. Waktuku berhenti saat dia pergi.

Suatu hari yg cerah di musim gugur. Seorang mahasiswi yg belum pernah kulihat sebelumnya menghampiriku. Dengan senyum lembutnya dia mengajakku berkenalan. Cantik, dia sungguh cantik. Haripun berlalu, mahasiswi ini mengajariku cinta. Dia memberiku hidup dan harapan yg baru. Entah mengapa dia begitu mengngatkanku pada kekasihku yg dulu.

Kami berdua akhirnya lulus kuliah, dia lulus dengan cum laude sementara aku lulus dengan pas-pasan karena nilaiku jelek2 sebelum bertemu dengnnya.

Tahun kembali berlalu, gadis cantik itu kini kunikahi. Aku hampir melupakan kekasih lamaku karena kebahagiaan yg kudapatkan sekarang.

Akhirnya sesuatu memang akan mencapai akhir.....istriku terserang sebuah penyakit ganas. Dia tak dapat bertahan lagi. Akupun tak dapat menahan kesedihanku.

Sebelum meninggal istriku berkata padaku
"sayang, ingatkah kau saat pertama kita berjumpa?"
"ya, tentu. Kau sangat cantik dan selalu cantik"
"Saat itu......aku sudah tahu semua tentangmu"

aku terkejut, tapi belum sempat aku berkata apa2 dia kembali melanjutkan kalimatnya

"Dulu sebelum aku kuliah, aku bertemu seorang gadis, dia sangat baik tapi bernasib malang"
istriku berhenti sejenak, matanya basah
"Gadis itu.....dia adalah seorang hostess di bar milik sepupuku. Dia menjadi hostess karena harus membayar hutang orang tuanya"

tiba2 aku teringat seseorang.
"Sayang, ingatkah kau pada gadis yg selalu kauberi setangkai mawar tiap akhir minggu?"

aku tercekat, tanpa sadar mataku basah saat teringat kekasih lamaku

"Dialah gadis yg kutemui...dulu, kami berteman baik saat itu. Sebenarnya aku ingin membantunya membayar hutang itu tapi dia menolak"

Istriku menatapku dengan matanya yg lembut.

"Aku tahu kau masih mencintainya.......tapi akupun yakin kau juga mencintaiku"

Aku terdiam

"apa kau tahu sayang....dia selalu bercerita tentangmu. Matanya selalu penuh cinta saat bicara tentangmu.....Karena itulah aku penasaran dan mencarimu. Ternyata kau memang sebaik yg dikatakannya"

Aku tak dapat lagi menahan rasa penasaranku
"Apa yg terjadi padanya?"

"Dia.....suatu hari, dia pingsan saat bekerja. Aku cemas dan membawanya ke rumah sakit. Levernya rusak karena terlalu banyak minum.....dia tak dpt diselamatkan" istriku menangis

Air mataku mulai menetes, aku tak pernah tahu bahwa gadisku dahulu ternyata menghadapi hidup yg begitu keras.

"Tapi.....sebelum meninggal, dia berkata padaku.....carilah pria dalam foto ini. Dia adalah pria yg paling baik di dunia, kumohon bahagiakanlah dia untukku dan....tolong jangan katakan padanya tentang nasibku, biarlah dia selalu berpikir bahwa aku adalah wanita jahat yg meninggalkannya"
Istriku kini berlingang air mata, dia tersedu2.
"Akupun mencarimu, dan....aku tak pernah menyesal. Aku tahu kenapa dia mencintaimu, sama sepertiku"

Aku terdiam dan menangis......aku hanya membisu.

Istriku meninggal tak lama setelah itu. Aku teramat sedih....kini aku benar2 kehilangan 2 wanita paling berharga dalam hidupku. Aku tak pernah menyangka...kekasih lamaku mengirimkan seorang bidadari untukku sebelum dia meninggal. Ternyata dia mencintaiku sampai saat akhirnya.

Aku menguburkan istriku di dekat makam kekasih lamaku. Saat ini aku berdiri di tanah kosong di antara keduanya, itulah tempatku nanti.

0 komentar:

Posting Komentar